Thursday, May 4, 2017

Agar Tidak Menangis Saat Memotong Bawang

Anda tentu pernah mengeluarkan air mata saat mengiris bawang, mengeluarkan air mata saat mengiris bawang memang tidak berbahaya, tapi jika ini terjadi setiap kali mengiris bawang tentu bukan hal yang menyenangkan.

Menurut Eric Block, bawang membuat mata perih saat dipotong adalah karena senyawa kimia bernama syn-propnethial-S-oxide, papar ahli kimia ini.

bawang, potong bawang, memotong bawang


"Bawang adalah umbi yang tumbuh di dalam tanah, tempat banyak serangga hidup dan mencari makan," ujar Block. "Jadi bawang kemudian menciptakan senyawa sistem pertahanan."

Jadi, memang bawang didesain untuk membuat pemotongnya menangis, dengan tujuan agar dia tidak dimakan.

"Cara bawang ini didesain sangatlah jenius," lanjut Block. Dalam sel-sel bawang, ada sebuah kantung kecil yang berisi enzim. Ketika Anda menggigit atau memotong bawang, kantung enzim akan pecah dan melepaskan isinya. Inilah proses yang membuat Anda mengeluarkan air mata.

Cara terbaik menurut Block untuk menghindari keluarnya air mata adalah, dengan memotong bawang di ruang yang berventilasi baik, di dekat kipas.

Selain itu, ada beberapa trik lain yang bisa Anda lakukan untuk menghindari atau setidaknya mengurangi mata perih dan keluarnya air mata saat memotong bawang :

1. Masak dulu bawang sebelum dipotong. Proses ini akan menonaktifkan enzim di dalamnya. Jadi walaupun bau bawang yang sudah dimasak jadi lebih tajam, dia tidak akan membuat mata sakit.

2. Gunakan kacamata pelindung. Walaupun konyol, hal ini bisa melindungi mata dari senyawa tajam yang bisa membuat mata Anda berair.

3. Dinginkan bawang sebelum dipotong. Masukkan dulu bawang ke kulkas selama beberapa menit. Hal ini bisa memperlambat reaksi kimia bawang dan mengubah kimiawi di dalamnya. Anda bisa mendapatkan reaksi yang sama dengan memotong bawang di dalam air.

4. Gunakan pisau dari bahan stainless steel. Senyawa sulfur juga meninggalkan bau khas pada jari. Dengan menggunakan pisau berbahan stainless steel, Anda bisa mengurangi ketajaman reaksi kimia dari bawang.

4 Tips Memilih Bunga Untuk Yang Sedang Sakit

bunga


Bagi anda yang sering memberikan setangkai bunga untuk seseorang yang sedang sakit rupanya merupakan hal yang positif, karena menurut penelitian dari Rutgers University, memberi bunga dapat membantu mereka secara psikologis, bisa dikatakan dapat membuat lebih bahagia.

Karena itu setangkai atau mungkin satu bucket bunga dapat menjadi pemberian spesial saat menjenguk.

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum anda memberi bunga kepada orang yang sakit, diantaranya :

1. Bunga bebas alergi

Pilihlah bunga yang bebas alergi, meskipun tidak semua orang alergi pada serbuk bunga, tapi setidaknya anda menghindarinya, terutama jika yang anda besuk berada dirumah sakit, contoh bunga yang bebas alergi seperti mawar, anyelir, dan seruni.

2. Bilas bunga

Tentunya anda tidak mau jika bunga yang anda beli ternyata kotor, ada serangga atau mungkin ada kotoran yang bisa membahayakan sipenerima, karena itu sebaiknya bilas bunga tersebut sebelum menyerahkannya.

3. Ukuran bunga

Sebaiknya pilih bunga dengan ukuran sedang agar bisa diletakkan pada vas bunga, tentunya ini menjaga agar bunga tidak cepat busuk dan layu

4. Bunga tropis

Menurut penelitian jenis bunga tropis dapat memberikan oksigen tambahan yang baik untuk orang sakit. Selain itu bunga tropis bisa membuat udara menjadi lebih sejuk, karena mampu menyingkirkan pollusi udara. Contoh bunga tropis seperti anggrek, aster, begonia, dan kamboja.

Bunga Sebagai Obat Alami

bunga ternyata bisa dijadikan sebagai obat herbal

Selama ribuan tahun bunga sudah menjadi bagian sebagai obat-obatan alami. Selain memiliki tampilan yang menawan dan bau yang khas, tanaman ini rupanya juga memiliki kemampuan untuk mengobati berbagai macam penyakit

Profesor Monique Simmonds seorang pakar tanaman mengatakan bahwa alam adalah ahli kimia yang luar biasa, Profesor Monique Simmonds telah melahirkan sejumlah terapi kesehatan menggunakan bunga.

Seperti yang kita ketahui, orang jaman dulu selalu bergantung kepada obat-obatan yang langsung berasal dari alam, jadi ketika ingin menyembuhkan penyakit mereka biasanya lari kehutan, rawa-rawa, atau ke padang rumput untuk mencari tanaman untuk dijadikan obat dan bunga adalah salah satunya.

Mereka percaya, bunga yang merupakan kado dari alam buat manusia tidak mungkin tak dapat digunakan untuk kemaslahatan umat.

Setelah mereka coba dan ternyata ampuh ketika diterapkan di badan mereka, informasi dari mulut ke mulut pun jadi menyebar, dan berubah menjadi sebuah kepercayaan yang masih melekat sampai sekarang.

Sekitar tahun 1930-an, seorang dokter yang menemukan terapi bunga Bach, Dr Edward Bach mulai bereksperimen menggunakan bunga sebelum akhirnya membuka praktik di kawasan Harley Street, London.

Edward percaya, setiap bunga memiliki getaran energi positif yang dapat menyembuhkan suatu penyakit, karena kemampuannya mengusir energi negatif.

Filosofi yang dimilikinya itu sampai hari ini masih diterapkan oleh Liliana Bellini dari Nelsons Hemeopathic Pharmacy, London. Liliana bahkan menyuling bunga agar bisa disesuaikan untuk mengatasi masalah pasiennya.

Liliana mengatakan "Sekitar 60 sampai 70 persen pasien menunjukkan tanda-tanda adanya perubahan ke arah yang lebih baik setelah melakukan terapi bunga Bach selama beberapa minggu," seperti yang dikutip dari net doctor

Liliana mengatakan, pasiennya sendiri yang merasakan bahwa setelah melakukan terapi bunga lebih mampu mengontrol amarahnya, lebih menerima akan penyakitnya, dan jauh lebih kuat dan tidak takut dalam menghadapi permasalahan kesehatan yang tengah dirasakannya.

Dari situ Liliana percaya, bunga menyimpan kekuatan magis dalam melarutkan energi negatif yang memperlambat proses penyembuhan suatu penyakit.

Ada pun jenis-jenis bunga yang dipakai oleh Lili selama terapi bunga Bach adalah,"Kenari, digunakan untuk menghilangkan rasa gugup pasien. Clematis, membantu pasien lebih konsentrasi. Plum ceri untuk menenangkan mereka, dan bunga kastanye putih yang dapat mendorong mereka agar mampu berpikir positif."